12:20 WIB
Selasa , 26 September 2017
Diposting tanggal: 22 April 2017, 13:57:59 WIB

Lawan Kanker, Upaya Penderita Dapat Disembuhkan

Lawan Kanker, Upaya Penderita Dapat Disembuhkan
Optimisme pasien melawan penyakit kanker

Jakarta, Kanker merupakan sesuatu yang menakutkan. Tak sedikit dari penderitanya yang terpaksa kehilangan harta benda demi biaya berobat. Tak heran, jika pasien kanker pengguna layanan ini juga sudah menyita pembiayaan besar bagi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Pada kondisi kritis penyakit ini seolah berkaitan dengan kematian. Menurut dokter Ari Fahrial Syam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- RSCM yang juga merupakan Ketua Umum PB Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia, menerangkan bahwa Kanker tidak selalu berhubungan dengan kematian.

"Diketahui banyak pula  pasien yang pernah divonis kanker ternyata masih bisa hidup bertahun-tahun, bahkan bisa sesehat orang tanpa penyakit kanker," katanya dalam rilisnya (21/04/17). Secara medis penyakit kanker tidak bisa dikatakan sembuh. Istilah yang digunakan adalah remisi atau relaps. Istilah remisi diberikan pada  pasien kanker  yang sudah di terapi dan sudah dievaluasi bahwa pasien tersebut tidak mengandung sel kanker lagi di dalam tubuhnya. "Pada masa remisi tersebut si pasien harus tetap kontrol secara teratur dan tetap menjaga tubuhnya agar selalu sehat," ujar Ari. Istilah remisi, berbeda dengan sembuh total. Secara psikologis istilah remisi seperti mengingatkan kepada pasien tersebut bahwa dirinya harus kontrol secara teratur dan tetap menjalankan gaya hidup sehat. 

Salah satu cara hidup sehat adalah istirahat cukup dan tetap menjaga makan, dengan memperbanyak sayur dan buah agar tetap sehat. Buah dan sayur mengandung anti oksidan yang dibutuhkan untuk menetralkan racun didalam tubuh. "Istirahat cukup dan hidup tidak ngoyo. Selain itu stress baik stress fisik maupun psikis bisa memperburuk perjalanan kanker seseorang," katanya.

Pada penyakit ini yang divonis kanker stadium 4 menunjukkan perjalanan kanker sudah lanjut dan sudah ditemukan penyebaran kanker ke organ lain. Adapun organ  yang sering terkena penyebaran kanker adalah paru, liver atau otak. Sering juga perjalanan kanker menginfiltrasi organ sekitarnya. Misal kanker serviks bisa menginfiltrasi keorgan sekitarnya seperti usus besar atau kandung kemih. Kanker stadium 4 berkaitan dengan survival rate yang rendah. Hitungan survival rate berhubungan dengan bertahan hidupnya seseorang dengan penyakit kankernya. "Biasanya terapi yang diberikan pada pasien yang sudah mencapai stadium 4 bersifat paliatif supportif. Nyeri kankernya dikurangi, nafsu makannya  diperbaiki gejala mual dan muntah dikurangi", tambahnya.

Pasien masih  bisa melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri. Prinsip terapi paliatif hanya mengurangi dampak dari perjalanan kanker yang ada. Walau perkembangan teknologi dan temuan obat-obat baru kanker akan memperbaiki kualitas hidup dan survival rate pasien kanker tersebut. Bertahan hidup pada pasien kanker ini, tak lepas dari jenis kanker yang dideritanya. Untuk kanker usus besar stadium 4 misalnya, survival rate untuk 5 tahun hanya 11 persen, artinya lebih kurang hanya 1 dari 10 pasien kanker stadium 4 tersebut yang dapat bertahan hidup dalam 5 tahun ke depan. Sebaliknya pada kanker usus besar stadium 1 survival rate 5 tahunnya bisa mencapai 90 persen. Artinya 9 dari 10 pasien kanker usus besar stadium 1 bisa bertahan sampai 5 tahun. Bahkan bisa saja lebih dari 5 tahun. "Memang ada penyakit kanker yang walaupun ditemukan di stadium awal tapi prognosisnya buruk misal pada pasien kanker pankreas yang ditemukan pada stadium 1 A saja angka bertahan hidup 5 tahunnya hanya 14 persen, sedang kanker pankreas yang ditemukan sudah stadium 4, survival rate 5 tahunnya hanya 1 persen," dalam penjelasannya.

Ari mengatakan, dalam prakteknya dokter tidak bisa menyebut berapa lama lagi seseorang bisa bertahan hidup karena sakit kankernya tetapi yang dinilai adalah kesempatan pasien tersebut  tetap bertahan hidup dalam 5 tahun kedepan. Bagi pasien kanker dan keluarga mengetahui angka survival rate penting. Tetapi mengetahui angka survival rate juga bisa membuat pasien kanker lengah. "Misal seseorang yang diketahui hanya menderita kanker stadium 1 yang sudah diobati menjadi lengah karena merasa harapan hidupnya lebih baik dan meninggalkan gaya hidup sehat," katanya. 

Dalam penyakit ini ia menghimbau, agar pasien dan keluarganya tetap harus memperhatikan survival rate atau angka bertahan hidup, ini juga tergantung dari banyak faktor. Survival rate adalah angka-angka yang keluar dari perhitungan statistik, angka ini menujukkan probabilitas yang pada akhirnya pasien kanker harus tetap melakukan kontrol secara teratur dan tetap menjalankan pola hidup sehat agar berumur panjang dengan kualitas hidup yang baik. TEMPO.CO (sek-red)